Enam belas tahun yang lalu, tepatnya 19 Agustus 1995, sebuah tragedi menimpa 13 anak manusia satu diantaranya saya.
Ya..tragedi yang berawal dari sebuah ekspedisi pendakian gunung terbesar di Jawa, gunung Slamet. Kala itu aku sendiri masih duduk di kelas dua SMA...yah masih seger...masih remaja.
Ekspedisi ini sebenarnya tidak ada tujuan selain untuk olah raga, rekreasi, melatih keberanian, memicu adrenalin dan keakraban.
Berawal dari kesepakatan "anak-anak madrasah" (sebutan utk anak2 pengajian) untuk mengadakan refreshing dengan agenda hacking ke daerah pegunungan. Siip, semua sepakat untuk go ke gunung slamet di samping karena lokasi yang memikat juga karena di situ ada beberapa teman yang akan jadi guide-nya.
Semua persiapan sudah OK. Kami pun berangkat dengan "ngompreng' numpang mobil. Perjalanan ke lokasi kurang lebih memakan waktu 4 jam. Sampailah kami di Moga Pemalang sore hari. Dari Moga perjalanan dilanjutkan naik mobil khas gunung...pas kebetulan saya kebagian tempat duduk samping sopir.
"Mas, ngomong-ngomong ini rombongan pada mau ke mana ? "Tanya Pak Sopir. Mau jalan-jalan ke gunung slamet, sahutku". Wah...wah...wah... dulu saya serombongan 40 orang pernah manjat gunung slamet, ketika sampai separuh perjalanan...tiba-tiba datang seekor ular besar...besar sekali...sebesar pohon kelapa...kami pun langsung lari lari kebirit-birit turun ke bawah...kami pulang ketakutan...ngeri mas.. "Sambung pak sopir.
Berdiri juga bulu kudukku dengerin ceritanya pak sopir...nasibnya itu cerita hanya saya dan teman sebelah saya yang mendengarnya...yang lain gak tahu...soalnya mobil yang ditumpangi mobil pic-up. Dalam batin, kalo saya ceritakan sama teman-teman yang duduk di belakang...ini acara bakal bubar. Udah mendingan hanya kami berdua aja yang tahu.
Setelah puas digoyang di dalam mobil, karena jalannya terjal dan berbatu, kami pun sampai di desa terakhir sebelum masuk ke kawasan hutan, tepatnya di desa Jurang mangu.
Ku injakkkan kaki turun dari mobil...Subhanallah...pemandangan alam yang menakjubkan..kelelahan kami seolah terobati dengan nikmatnya memandang alam pegunungan yang menghijau serta kokohnya sebuah gunung yang berdiri menjulang ke langit. Seumur-umur baru kali ini saya melihat langsung dari dekat makhluk Allah yang namanya gunung. Biasanya sih saya lihat dari kejauhan, terlihat kecil seolah berdiri di langit. Kali ini saya bisa melihat langsung...besar dan tinggi menjulang ke langit. Batin saya berkata, apa mungkin rombongan ini mau mendaki sampai puncaknya? rasanya tak mungkin, karena angen-angen saya ke sini itu cuma mau main ke hutan gunung slamet, bukan mo mendakinya.
Rupanya angen-angen saya keliru...ternyata rombongan ini mau melakukan pendakian sampai puncaknya. Mau gak mau akhirnya aku pun terpaksa harus ikut. Setelah melaksanakan shalat maghrib dan isya' dengan dijama', pas jam 21.00 (9 malam) kami berangkat memasuki hutan.Pertama kali yang dituju adalah rumah juru kunci (kuncen)penunggu gunung slamet. Setelah 'ngos-ngosan' jalan kaki selama setengah jam, kami pun sampai di rumah mbah juru kunci. Sebuah rumah kecil terletak di kedalaman hutan.
Rupanya nasib baik belum memihak kami, juru kunci menolak mengantar kami bila pendakian dilakukan malam ini, dia mau ngantar tapi besok pagi. "Gimana...gimana nih"... akhirnya ketua ekspedisi mengatakan...kita berangkat gak usah pake juru kunci..sebagian kita kan pernah mendaki sampai puncak...jadi sedikit-sedikit masih tahu jalannya.
Kupandang langit...begitu cerah..bintang bertaburan...bulan pun tidak malu menampakkan dirinya. Begitu indah..karena aku melihatnya dibelantara hutan yang gelap...jadi hiasan langit begitu tampak mempesona. Apalagi ditambah dengan aroma khas hutan..begitu sangat mengesankan.
Kami pun terus berjalan di tengah belantara hutan... sangat gelap... hanya lampu senter yang memandu kami... berjalan dirimbunan semak-semak...masuk ke dalam hutan..kadang-kadang nanjak...kadang-kadang turun...terkadang melewati pinggiran jurang... harus ekstra hati-hati karena medan sangat tidak bersahabat. Kabut tebal dan hawa yang sangat dingin menusuk tulang...membuat kami mudah kelelahan. Sedikit lengah saja...bisa out masuk jurang.
Jalan terus...jalan terus...nanjak....dan nanjak...jantungku berdebar kencang...nafas tersengal-sengal... kurebahkan badan di atas semak bulekar....trasa nikmat sekali. Aaah istirahat dulu.... kataku. Ku raih minumanku, kuteguk...nyess dingin sekali seperti es. Aku ingat sebelum berangkat aku dibekali arem-arem sama orang kampung, ku ambil...dingin sekali tapi tetap aja kulahap sampai abis, gimana lagi lapar sekali..
Lelah...jalan dah terseok-seok... sampai juga aku di daerah vegetatif (daerah tertinggi yang tidak ditumbuhi kecuali lumut dan beberapa jenis tanaman gunung, seperti adelwes dll)...selamat tinggal hutan. Pemandangan sangat indah...meskipun masih remang-remang..hamparan aneka bunga dan tanaman gunung begitu mempesona. Di daerah ini ada goa kecil...aku masuk bersama dua orang untuk melaksanakan shalat shubuh. Setelah shalat shubuh kami istirahat sebentar, sambil nunggu teman-teman yang masih di bawah yang belum sampai.
Setelah nunggu sekitar 15 menit...tak kunjung datang juga teman-temanku...barangkali mereka tidur di bawah sana, kelelahan dan malas melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami hanya berlima meneruskan perjalanan. Perjalanan ini lebih berbahaya dan beresiko karena harus mendaki batu-batu cadas yang terjal. Untuk sampai puncak gunung memang harus memanjat tebing yang terjal, kita harus memastikan batu yang kita pijak harus kuat, kalau gak kita bisa terpeleset dan jatuh dan koit alias tewas. Beberapa kali batu yang aku pijak mleset jatuh, kulirik ke bawah ..batu itu hancur berkeping-keping...benar-benar mengerikan...sangat menantang dan butuh keberanian.
Sekitar 20 menitan sudah aku merangkak memanjat puncak gunung ini, ternyata sampai juga kami di puncak gunung Slamet sekitar pukul 06.30 pagi. Alhamdulillah...gembira ...haru...bercampur aduk perasaanku. Aku tidak membayangkan bisa berdiri di tempat setinggi ini...di sekitarku awan berjalan seperti tumpukan kapas...seolah bisa dinaiki. Ku pandang ke sekeliling.. plong ..tak ada sesuatu pun yang menghalangi pandangan kami...selain kabut-kabut tipis yang menari-nari terbawa semilir angin yang sejuk.
Setelah sampai di puncak ini kami pun turun ke dalamnya... kedalamannya sekitar 300 m. Sesampai di dalam puncak gunung kami pun berjalan-jalan mengitari sekeliling...luas sekali..yang ada hanya hamparan pasir dan batu-batu cadas.
Kami pun penasaran...ingin melihat kawah yang masih aktif..kami coba dekati..bau belerang yang sangat menyengat...sekitar dari jarak 2 meter kulihat kawah mendidih yang bergolak dan sesekali muncrat ke atas...ngeri sekali..aku mebayangkan bagaimana pas aku sedang berdiri ini gunung meledak....waaaaaaaah...takuuut.
Bersambung...
pengalamanku dulu, remajanya abu nakhla.