Jumat, 19 Agustus 2011

SELAMAT DI GUNUNG SLAMET (1)


Enam belas tahun yang lalu, tepatnya 19 Agustus 1995, sebuah tragedi menimpa 13 anak manusia satu diantaranya saya.
Ya..tragedi yang berawal dari sebuah ekspedisi pendakian gunung terbesar di Jawa, gunung Slamet. Kala itu aku sendiri masih duduk di kelas dua SMA...yah masih seger...masih remaja.

Ekspedisi ini sebenarnya tidak ada tujuan selain untuk olah raga, rekreasi, melatih keberanian, memicu adrenalin dan keakraban.

Berawal dari kesepakatan "anak-anak madrasah" (sebutan utk anak2 pengajian) untuk mengadakan refreshing dengan agenda hacking ke daerah pegunungan. Siip, semua sepakat untuk go ke gunung slamet di samping karena lokasi yang memikat juga karena di situ ada beberapa teman yang akan jadi guide-nya.

Semua persiapan sudah OK. Kami pun berangkat dengan "ngompreng' numpang mobil. Perjalanan ke lokasi kurang lebih memakan waktu 4 jam. Sampailah kami di Moga Pemalang sore hari. Dari Moga perjalanan dilanjutkan naik mobil khas gunung...pas kebetulan saya kebagian tempat duduk samping sopir.

"Mas, ngomong-ngomong ini rombongan pada mau ke mana ? "Tanya Pak Sopir. Mau jalan-jalan ke gunung slamet, sahutku". Wah...wah...wah... dulu saya serombongan 40 orang pernah manjat gunung slamet, ketika sampai separuh perjalanan...tiba-tiba datang seekor ular besar...besar sekali...sebesar pohon kelapa...kami pun langsung lari lari kebirit-birit turun ke bawah...kami pulang ketakutan...ngeri mas.. "Sambung pak sopir.

Berdiri juga bulu kudukku dengerin ceritanya pak sopir...nasibnya itu cerita hanya saya dan teman sebelah saya yang mendengarnya...yang lain gak tahu...soalnya mobil yang ditumpangi mobil pic-up. Dalam batin, kalo saya ceritakan sama teman-teman yang duduk di belakang...ini acara bakal bubar. Udah mendingan hanya kami berdua aja yang tahu.

Setelah puas digoyang di dalam mobil, karena jalannya terjal dan berbatu, kami pun sampai di desa terakhir sebelum masuk ke kawasan hutan, tepatnya di desa Jurang mangu.

Ku injakkkan kaki turun dari mobil...Subhanallah...pemandangan alam yang menakjubkan..kelelahan kami seolah terobati dengan nikmatnya memandang alam pegunungan yang menghijau serta kokohnya sebuah gunung yang berdiri menjulang ke langit. Seumur-umur baru kali ini saya melihat langsung dari dekat makhluk Allah yang namanya gunung. Biasanya sih saya lihat dari kejauhan, terlihat kecil seolah berdiri di langit. Kali ini saya bisa melihat langsung...besar dan tinggi menjulang ke langit. Batin saya berkata, apa mungkin rombongan ini mau mendaki sampai puncaknya? rasanya tak mungkin, karena angen-angen saya ke sini itu cuma mau main ke hutan gunung slamet, bukan mo mendakinya.

Rupanya angen-angen saya keliru...ternyata rombongan ini mau melakukan pendakian sampai puncaknya. Mau gak mau akhirnya aku pun terpaksa harus ikut. Setelah melaksanakan shalat maghrib dan isya' dengan dijama', pas jam 21.00 (9 malam) kami berangkat memasuki hutan.Pertama kali yang dituju adalah rumah juru kunci (kuncen)penunggu gunung slamet. Setelah 'ngos-ngosan' jalan kaki selama setengah jam, kami pun sampai di rumah mbah juru kunci. Sebuah rumah kecil terletak di kedalaman hutan.

Rupanya nasib baik belum memihak kami, juru kunci menolak mengantar kami bila pendakian dilakukan malam ini, dia mau ngantar tapi besok pagi. "Gimana...gimana nih"... akhirnya ketua ekspedisi mengatakan...kita berangkat gak usah pake juru kunci..sebagian kita kan pernah mendaki sampai puncak...jadi sedikit-sedikit masih tahu jalannya.

Kupandang langit...begitu cerah..bintang bertaburan...bulan pun tidak malu menampakkan dirinya. Begitu indah..karena aku melihatnya dibelantara hutan yang gelap...jadi hiasan langit begitu tampak mempesona. Apalagi ditambah dengan aroma khas hutan..begitu sangat mengesankan.

Kami pun terus berjalan di tengah belantara hutan... sangat gelap... hanya lampu senter yang memandu kami... berjalan dirimbunan semak-semak...masuk ke dalam hutan..kadang-kadang nanjak...kadang-kadang turun...terkadang melewati pinggiran jurang... harus ekstra hati-hati karena medan sangat tidak bersahabat. Kabut tebal dan hawa yang sangat dingin menusuk tulang...membuat kami mudah kelelahan. Sedikit lengah saja...bisa out masuk jurang.

Jalan terus...jalan terus...nanjak....dan nanjak...jantungku berdebar kencang...nafas tersengal-sengal... kurebahkan badan di atas semak bulekar....trasa nikmat sekali. Aaah istirahat dulu.... kataku. Ku raih minumanku, kuteguk...nyess dingin sekali seperti es. Aku ingat sebelum berangkat aku dibekali arem-arem sama orang kampung, ku ambil...dingin sekali tapi tetap aja kulahap sampai abis, gimana lagi lapar sekali..

Lelah...jalan dah terseok-seok... sampai juga aku di daerah vegetatif (daerah tertinggi yang tidak ditumbuhi kecuali lumut dan beberapa jenis tanaman gunung, seperti adelwes dll)...selamat tinggal hutan. Pemandangan sangat indah...meskipun masih remang-remang..hamparan aneka bunga dan tanaman gunung begitu mempesona. Di daerah ini ada goa kecil...aku masuk bersama dua orang untuk melaksanakan shalat shubuh. Setelah shalat shubuh kami istirahat sebentar, sambil nunggu teman-teman yang masih di bawah yang belum sampai.

Setelah nunggu sekitar 15 menit...tak kunjung datang juga teman-temanku...barangkali mereka tidur di bawah sana, kelelahan dan malas melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami hanya berlima meneruskan perjalanan. Perjalanan ini lebih berbahaya dan beresiko karena harus mendaki batu-batu cadas yang terjal. Untuk sampai puncak gunung memang harus memanjat tebing yang terjal, kita harus memastikan batu yang kita pijak harus kuat, kalau gak kita bisa terpeleset dan jatuh dan koit alias tewas. Beberapa kali batu yang aku pijak mleset jatuh, kulirik ke bawah ..batu itu hancur berkeping-keping...benar-benar mengerikan...sangat menantang dan butuh keberanian.

Sekitar 20 menitan sudah aku merangkak memanjat puncak gunung ini, ternyata sampai juga kami di puncak gunung Slamet sekitar pukul 06.30 pagi. Alhamdulillah...gembira ...haru...bercampur aduk perasaanku. Aku tidak membayangkan bisa berdiri di tempat setinggi ini...di sekitarku awan berjalan seperti tumpukan kapas...seolah bisa dinaiki. Ku pandang ke sekeliling.. plong ..tak ada sesuatu pun yang menghalangi pandangan kami...selain kabut-kabut tipis yang menari-nari terbawa semilir angin yang sejuk.

Setelah sampai di puncak ini kami pun turun ke dalamnya... kedalamannya sekitar 300 m. Sesampai di dalam puncak gunung kami pun berjalan-jalan mengitari sekeliling...luas sekali..yang ada hanya hamparan pasir dan batu-batu cadas.
Kami pun penasaran...ingin melihat kawah yang masih aktif..kami coba dekati..bau belerang yang sangat menyengat...sekitar dari jarak 2 meter kulihat kawah mendidih yang bergolak dan sesekali muncrat ke atas...ngeri sekali..aku mebayangkan bagaimana pas aku sedang berdiri ini gunung meledak....waaaaaaaah...takuuut.

Bersambung...

pengalamanku dulu, remajanya abu nakhla.




Selasa, 16 Agustus 2011

RAIH LAILATUL QADAR DENGAN I'TIKAF

Diantara keistimewaan bulan Ramadhan adalah terdapat lailatul qadar. Lalu apa itu lailatul qadar ? Apa keutamaanya dan kapan terjadinya ? Serta bagaimana agar kita dapat meraihnya ? Simak tulisan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Lailatul qadar adalah malam yang diberkahi karena di malam ini al-qur’an diturunkan sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar)”. (QS. Al-Qadr : 1)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)

Keutamaan Lailatul Qadar

Setelah Allah menjelaskan bahwa al-qur’an diturunkan di malam lailatul qadar, maka Allah q menegaskan tentang keutamaan malam tersebut dengan kontek pertanyaan sekaligus dengan jawabannya.
“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (lailatul qadar) itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS. Al-Qadr : 2-3)

Lalu apa yang dimaksud lebih baik dari seribu bulan?

Jawabannya dipaparkan oleh Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya dengan menukil sebuah riwayat dari Imam Ibnu Jarir secara mauquf, dari Mujahid beliau berkata : “Bahwa dulu di bani Israil ada seorang pria yang selalu shalat lail di malam hari sedangkan siang harinya ia berjihad (berperang) melawan musuh hingga sore hari, itu semua ia lakukan selama seribu bulan (kurang lebih 83 tahun-pen). Maka Allah q pun menurunkan ayat ini “Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih baik dari seribu bulan” (Qs. Al-Qadr : 3) maka shalat lail di malam itu (malam lailatul qadar-pen) lebih baik dari apa yang telah diamalkan oleh pria bani israil tsb.

Subhanallah, shalat lail di malam lailatul qadar pahalanya lebih baik dari pada shalat lail dan jihadnya pria bani israil yang dilakukannya selama seribu bulan.
Sebuah keutamaan yang tiada tandingannya. Coba Anda bayangkan bila bekerja sehari tapi digaji dengan gaji seperti bekerja selama 1000 bulan (kurang lebih 83 tahun). Senangkah Anda ?
Saya yakin Anda semua tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dan saya juga yakin Anda akan sangat kecewa bila sampai kehilangan peluang besar ini. Dan tentunya Anda tidak ragu dengan iming-iming yang dijanjikan oleh Allah, karena sangat tidak mungkin Allah dan rasul-Nya berdusta kepada kita -wal ‘iyyadzu billah-.
Maka buktikan keyakinan Anda dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih di malam lailatul qadar ini.
Saudaraku, itulah keutamaan lailatul qadar, beramal di malam itu lebih baik dari pada beramal selama seribu bulan di malam selainnya.
Imam Sufyan ats-Tsauri berkata, telah sampai kepadaku dari Mujahid (bahwa) lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan, ia mengatakan : “Beramal, berpuasa, shalat lail di waktu itu lebih baik dari pada seribu bulan. Ia (juga) berkata : “Malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan dibanding bulan-bulan lainnya yang tidak ada lailatul qadarnya”. (Lihat lebih rinci dalam tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat al-Qadr)

Saudaraku, tidak hanya itu bahkan kemulian malam ini dijelaskan oleh Allah dalam ayat berikutnya,
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 4-5)

Subhanallah, itulah para malaikat yang sangat banyak termasuk malaikat Jibril akan turun di malam ini sambil membawa berkah dan rahmat. Bahkan jumlah malaikat yang turun di malam itu lebih banyak dibanding malam-malam yang lain, bahkan lebih banyak dari butiran pasir.
Pada malam itu ajal dan rezeki yang terjadi selama setahun ke depan akan ditetapkan.
Malam itu penuh dengan kesejahteraan, hingga setan pun tidak bisa berbuat buruk. Malam itu akan berakhir sampai terbitnya fajar (shadiq) yakni tibanya waktu shubuh.
Saudaraku, hanya semalam tidak lebih. Akankah kita lewatkan begitu saja ? Lalu yang hanya semalam ini kapan terjadinya ?

Malam lailatul qadar terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dan sangat diharapkan terjadi pada malam-malam yang ganjil (malam 21, 23, 25, 27 dan 29).
Hal ini sebagaimana sabda Nabi : “...carilah ia (lailatul qadar-pen) di sepuluh malam terakhir Ramadhan”. (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda : “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR.al- Bukhari)

Dan tiap tahun malam lailatul qadar ini berubah-ubah, kadang terjadi pada malam 21 kadang terjadi dimalam lainnya. Semua ini rahasia Allah yang mengandung hikmah besar agar semua orang bersungguh-sungguh dalam mencarinya dengan memperbanyak beribadah dan tidak hanya menggantungkan hanya pada satu malam saja. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajaral-Atsqalani .
Saudaraku, bila Anda yakin malam yang Anda jalani adalah malam lailatul qadar, maka perbanyaklah doa. Lalu doa apa yang dibaca ? Pertanyaan ini juga sempat dilontarkan Aisyah kepada baginda Rasulullah.
Aisyah berkata : Wahai Rasulullah, bila aku berjumpa dengan malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan? Maka beliau bersabda : “Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘affuwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu’anni.
(artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Ash Shohihah)
Saudaraku, meskipun malam lailatul qadar waktunya dirahasiakan, tapi Rasulullah n memberitahukan tanda-tandanya.
Dari Ibnu Abbas d berkata, Rasulullah n bersabda : “Malam lailatul qadar itu malam yang cerah, cuacanya tidak panas (gerah) dan tidak pula dingin. Pagi harinya matahari terbit dengan cahaya redup kemerah-merahan”. (Hasan, riwayat Ibnu Majah, Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan al-Bazzar)

Saudaraku, setelah kita mengetahui tentang lailatur qadar, tentunya kita ingin mendapatkan keutamaannya. Dan tentunya pula keutamaan malam kemuliaan ini akan didapatkan dengan kesungguhan dalam beribadah bukan dengan sikap malas dan leha-leha. Tapi realita bicara lain, justru di akhir Ramadhan yang ramai bukan masjid tapi pusat-pusat perbelanjaan. Seperti biasa dengan alasan klasik “cari baju buat lebaran”.

Saudaraku bukan salah beli baju buat lebaran, tapi yang keliru adalah meninggalkan masjid dan lebih rajin keliling super market. Bukankah beli baju lebaran bisa dilakukan sebelum sepuluh malam terakhir?

Saudaraku, mari kita bandingkan sikap kita dengan sikap manusia terbaik panutan kita Rasulullah didalam menyikapi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Ummul Mu’minin Aisyah berkata,
“Rasulullah n sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Aisyahjuga mengatakan,
“Apabila Nabin memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (Menjauhi para istri beliau untuk tidak hubungan badan-pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Saudaraku, bahkan di sepuluh malam terakhir beliau tidak pulang ke rumah tapi berdiam diri tinggal dan menginap di masjid untuk i’tikaf.
Dari Abu Hurairah amengatakan bahwa Rasulullah n biasa beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari)
Bahkan beliau pernah i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Syawwal sebagai qodho (ganti) karena pada bulan Ramadhan beliau tidak sempat untuk i’tikaf.

Saudaraku itulah teladan kita, orang yang pertama kali akan masuk surga. Orang terbaik yang dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah . Beliau lebih giat dalam beribadah dengan shalat malam, membaca al-qur’an, berdzikir dll di 10 hari terakhir Ramadhan. Mari kita sebagai umatnya mencontoh beliau.

Saudaraku, menjalankan perintah itu sesuai dengan kemampuan. Maka bila kita tidak mampu menjalankan i’tikaf 10 hari penuh, maka beri’tikaflah sesuai kemampuan. Mungkin hanya malam ganjilnya saja, misalnya dengan harapan mendapatkan lailatul qadar. Karena i’tikaf waktunya tidak ada batasan minimal dan maksimalnya. Meskipun lebih baik kalau hendak i’tikaf sebaiknya tidak kurang dari semalam.
Saudaraku, pepatah arab mengatakan “ Ma la yudraku kulluh la yutroku kulluh” artinya “ Sesuatu yang tidak bisa didapatkan semuanya maka jangan ditinggalkan semuanya”. Dengan kata lain seadanya dan sebisanya. Kalau tidak bisa 10 hari maka kerjakan sebisa mungkin, tapi jangan tinggalkan 10 hari semuanya.

Saudaraku, i’tikaf harus dilakukan di masjid, tidak boleh di tempat lain. Dan masjid yang digunakan adalah masjid mana saja, meskipun hendaknya masjid tsb adalah masjid jami’ (masjid yang digunakan untuk shalat jum’at). Hal ini berdasarkan keumuman lafadz “al-masajid” dalam firman Allah
“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)

Dalam ilmu ushul kalimat jama’ yang menggunakan alif dan lam memiliki makna “aam (umum). Maka kalimat jama’ “al-Masajid” bermakna seluruh masjid. Dan ini sebagai pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Adapun hadits Hudzaifah yang mengatakan, “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid”, hadits ini masih dipersilisihkan apakah statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151)

Seandainya hadits itu marfu’, maka bisa dipalingkan maknanya dengan “tidak sempurna i’tikaf kecuali di tiga masjid”, bukan tidak sah i’tikaf di tiga masjid. Allahu a’lam.

Saudaraku, bila Anda hendak i’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan, masuklah ke tempat i’tikaf (masjid) pada tanggal 20 Ramadhan menjelang maghrib. Sebagaimana ini pendapat yang dipegang oleh Imam madzab empat.

Saudaraku, i’tikaf adalah solusi tepat untuk meraih lailatul qadar. Karena masjid adalah tempat yang kondusif untuk beribadah dibanding rumah.
Maka sementara waktu tinggalkan rumah Anda dan beralihlah ke masjid, rumah Allah.

Mungkin ada yang bertanya, apa yang akan dilakukan ketika i’tikaf. Jawabnya adalah ketika i’tikaf perbanyaklah beribadah kepada Allah, seperti shalat malam, membaca al-Qur’an, berdzikir (membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir dll), memperbanyak doa dsb.
Demikian semoga kita dimudahkan Allah untuk meraih lailatul qadar. Amin.

Ditulis oleh abu nakhla
artikel : www.jundi.co.cc

Sumber :
Tafsir Ibnu Katsir, Softwer Ruhul islam
Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Jilid II Cet. Maktabah Taufiqiyah Mesir